
Jakarta, N Generate Indonesia
—
Kementerian Komunikasi dan Digital (
Komdigi
) mengungkap masih banyak anak berusia di bawah 16 tahun yang memalsukan umur untuk mengakses media sosial. Hal ini menjadi tantangan utama dalam implementasi aturan
PP Tunas
.
Wamenkomdigi Nezar Patria mengatakan, berdasarkan hasil survei yang menjadi rujukan pemerintah, tiga dari lima anak memalsukan usia agar tetap dapat mengakses media sosial. Mereka melakukan hal ini untuk menghindari pembatasan usia.
“Ada satu survei yang menunjukkan kalau ada lima anak, tiga anak dipastikan memalsukan usianya untuk bisa masuk ke media sosial. Ini sudah umum terjadi,” kata Nezar dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya praktik tersebut jadi tantangan dalam penerapan PP Tunas, karena proses verifikasi usia sepenuhnya berada pada sistem yang dimiliki masing-masing platform digital.
Oleh karena itu, pemerintah meminta seluruh platform memperkuat teknologi identifikasi usia tanpa mengabaikan ketentuan perlindungan data pribadi.
“Kita sudah sampaikan kepada platform, karena yang bisa meregulasi ini adalah platform dengan solusi teknologi yang mereka miliki. Namun identifikasi usia juga harus tetap mematuhi prinsip perlindungan data pribadi,” jelasnya.
Menurut dia sejumlah platform sebenarnya sudah mulai menerapkan sistem yang lebih ketat. Lewat pemanfaatan algoritma, platform dapat mengenali pola penggunaan akun yang diduga dimiliki anak di bawah umur, termasuk ketika mengakses konten yang tidak sesuai dengan kelompok usianya.
“Beberapa platform sudah mulai melakukan pembatasan. Ada anak yang sebelumnya memiliki akun, tetapi kemudian tidak dapat lagi mengakses akunnya karena teridentifikasi sebagai pengguna di bawah, umur,” ujar dia.
Di sisi lain, Nezar juga menyebut bahwa keterlibatan orang tua tetap menjadi faktor utama dalam melindungi anak di ruang digital. Pemerintah mendorong mekanisme akun pendamping atau parental guidance agar aktivitas digital anak dapat diawasi secara lebih efektif.
“Sebagai orang tua kita memang harus lebih intens mendampingi anak. Pendekatan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perlindungan anak di ruang digital,” ujar Nezar.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang sudah menerapkan pembatasan usia anak di media sosial. Kebijakan tersebut kini mulai jadi perhatian sejumlah negara di kawasan.
“Di Asia Tenggara baru Indonesia yang mulai menerapkan peraturan ini. Australia sudah lebih dulu menerapkan dan terus melakukan evaluasi. Malaysia juga saya dengar sedang menyiapkan kebijakan serupa. Negara-negara lain mulai melihat bagaimana Indonesia mengelola perlindungan anak di ruang digital,” jelasnya.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video N Generate]
Baca lagi: Komdigi Temukan Masih Banyak Anak Palsukan Umur untuk Akses Medsos
Baca lagi: Dwayne Johnson Sebut Animasi Moana 3 Mulai Dibahas
Baca lagi: FOTO: Selena Gomez-Gigi Hadid Hadiri Nikahan Taylor Swift dan Travis



14 Responses
Sebuah karya tulis yang fungsional. Efek transformasinya langsung terasa pada pola kerja saya hari ini http://www.kufirst.center.ku.ac.th/specialfoodtalks5/
Insightful banget bacanya pagi-pagi gini. Kalau ada yang penasaran sama studi kasus lainnya, coba deh intip https://www.siteprice.org/competitors/sololoaded.com di situ lengkap juga.
Mantul min artikelnya, ngebuka wawasan banget. Oiya, buat yang mau explore lebih jauh soal ini, coba meluncur ke https://uk.gta5-mods.com/users/epicureannycom deh, lengkap parah!
Rekomendasi penulis sangat fleksibel untuk diadopsi pada berbagai skala kebutuhan operasional kita http://www.kufirst.center.ku.ac.th/8934-2/
Terima kasih atas penjelasannya, ulasan ini sangat membantu mencerahkan. Sebagai tambahan referensi, saya juga sempat membaca artikel senada yang lumayan mendalam di http://afc.blog.free.fr/index.php?post/2010/03/15/ouverture-du-site-de-l-Association-Fran%C3%A7aise-des-Catalanistes tadi.
Tulisan yang sangat informatif dan terstruktur dengan baik. Bagi rekan-rekan yang butuh literatur tambahan terkait bahasan ini, bisa juga mengecek http://vue.du.sud.blog.free.fr/index.php?post/2016/07/19/Au-dessus-de-la-v%C3%A9g%C3%A9tation yaa.
Mantap ulasannya, langsung pada intinya dan nggak bertele-tele! Kebetulan kemaren saya sempet mampir ke http://lionelc.blog.free.fr/index.php?post/2020…Promenons-nous-dans-les-bois-%21&pub=1, di sana juga ada pembahasan yang sangat relevan sama topik ini.
Artikel ini berhasil mempertahankan tensi kualitas materinya secara konsisten dari awal hingga akhir https://www.lib.cet.ac.il/pages/subx.asp?item=0&page=1&kwd=91
Setuju sama opini penulisnya, apalagi di bagian kesimpulan. Saya sempet baca referensi pendukungnya juga kemaren di http://histoire.art.free.fr/?article1/ nyambung banget.
Artikel yang sangat bermanfaat, bahasanya ringan tapi ngena. Oh ya, buat yang mau eksplor lebih jauh bisa cek http://modestecorrecteur.blog.free.fr/index.php?post/2017/08/13/Arte-enterre-le-h rekomen banget buat nambah referensi.
Sebuah panduan yang sangat memangkas durasi riset internal berkat konseptualisasinya yang padat dan terarah https://www.lib.cet.ac.il/pages/subx.asp?item=8312&page=1&type=site&rel=1
Artikel ini adalah manifestasi nyata dari bagaimana sebuah tulisan harus didesain untuk tujuan penyebaran ilmu pengetahuan https://www.repeatcrafterme.com/2012/11/owl-granny-square-crochet-pattern.html
Saya sangat menikmati tulisan ini karena langsung pada intinya. Tadi saya juga sempat membaca referensi lain di https://kldp.org/comment/253460 yang membahas hal serupa secara komprehensif.
Artikel ini adalah bukti nyata bahwa sebuah karya tulis mampu menjadi tujuan utama yang mulia bagi pencarian ilmu pengetahuan universal https://community.tp-link.com/en/home/forum/topic/199092?replyId=1003194